Kamis, 12 November 2009

7 Tahun In Memories

Cerita tentang masa-masa SMA. Sebenernya engga banyak sich kenangan indah yang aku dapet ketika aku SMA. Awal masuk SMA ini aza aku ngerasa terpaksa karena kebetulan NEM SMP aku mepet banget untuk bisa masuk di SMA Negeri di kota. Mau masuk swasta terus terang ortu aku bakal engga sanggup membiayai aku di sana. Karena kalau pun aku jadi sekolah di swasta aku cuma mau di MUHI, padahal biaya untuk masuk ke sana engga sedikit. Sempet ada tawaran agar aku disekolahkan di Tamsis aja ato kalau engga di MUMA cuma aku engga tertarik sama sekali. Waktu itu aku bersikeras mau sekolah di kota sampe-sampe ortu aku kesel dan akhirnya mereka ngancem engga bakal cariin sekolah lagi buat aku…..huhuhuhuh, tega!!!! Tanpa disengaja aku disaranin sama tetangga untuk sekolah di SMA I Gamping. Katanya tu sekolah masih baru tapi sepertinya prospek buat ke depannya bakalan bagus. Meski begitu aku masih tetep aja kekeh sama keinginan aku walaupun udah dibujuk-bujuk. Tapi pada akhirnya aku nyadar juga daripada aku engga dapet sekolah kenapa engga aku terima aja tawaran tetangga aku itu. Survei dimulai. Dari pagi sampe menjelang sore aku muter-muter cari sekolah negeri di pinggiran. Mulai dari SMA I Sewon, terus SMA I Sedayu, dan yang terakhir SMA I Gamping ini. Setelah aku memilih-milih, ternyata pilihan itu jatuh di SMA I Gamping. Kata ortu aku kalau emang aku udah ngerasa sreg mereka akan segera ngurusin berkas-berkas pendaftarannya. Sambil lihat-lihat lingkungan sekitar sekolah aku iseng baca-baca nama-nama siswa yang daftar di SMA itu. Engga nyangka begitu baca ternyata engga sedikit juga dari teman-teman SMP aku yang juga daftar di SMA itu. Dari situlah pada akhirnya aku bisa nerima. Aku mau sekolah di SMA itu. Waktu itu berharapnya sich selain aku diterima sekaligus teman-temanku juga diterima jadi paling engga aku ada temannya. Alhamdullillah doaku terkabul. Aku beserta beberapa teman aku diterima di SMA itu. Seingat aku ada Angga, Fadholi, Nova, Novi, Dodi, Arvian, Rhema. Seneng kita satu sekolah.

Hari pertama masuk sekolah ngerasa yang gimana gitu. Engga ada semangat sama sekali. Teman-temanku biasa-biasa aja. Yach maklumlah biasa sekolah di kota sekarang sekolah di pinggiran begitu, jadi agak sedikit drop. Di kelas IB tepatnya aku ditempatkan. Di sana aku satu kelas sama angga teman SMP aku. Di kelas ini pula cinta monyetku tumbuh. Tanpa sengaja lewat angga aku kenal dengan R*C* (maaf banget aku engga mau menyebut namanya) hingga pada akhirnya kami jadian, tepat 26 September 2000. Awalnya gak ada niat sama sekali mau pacaran karena ada beberapa hal yang menjadi masalah khususnya dari pihak aku. Alasan pada akhirnya aku menerima dia itu karena aku lebih melihat dari sisi background dia. Aku gak tega untuk menolaknya. Di mataku dia adalah sosok yang mandiri, supel, penuh dengan keceriaan. Dan aku pun banyak belajar darinya. Aku berusaha untuk bisa tulus menyayanginya walaupun sebenarnya masih ada perasaan yang mengganjal dalam hatiku. Aku masih sangat ragu padanya dan juga perasaan hatiku. Tapi lama-kelamaan perasaan itu aku buang jauh-jauh dan aku mencoba untuk dapat menerimanya dengan sepenuh hatiku. Hubungan yang kami jalani penuh dengan kerumitan. Banyak sekali kendala-kendala yang menghalangi hubungan kami ini, entah itu dari dia ataupun dariku. Yach walaupun ada komitmen dari kami berdua tapi ternyata itu semua gak cukup untuk dapat mempertahankan hubungan kami. Baru beberapa bulan kami jalan tiba-tiba dia berniat untuk break sejenak dengan alasan yang sungguh gak masuk akal. Selama kita jalan masing-masing ku coba untuk instropeksi diri. Ku coba untuk mencari jalan keluar agar hubungan kami tetap bisa terselamatkan. Alhamdulillah doaku terkabul. Sebulan setelah kita break hubungan itu kembali terjalin, kami balikan. Senangnya waktu itu ternyata aku masih diberi kesempatan untuk tetap masih bersama dengan dia. Dengan begitu aku makin yakin akan perasaanku terhadapnya. Berharap untuk dapat terus bersama.

Namun cobaan kembali datang ketika aku duduk di kelas II SMA. Dia berubah sikap dan aku engga pernah tahu apa penyebabnya. Jika aku tanya mengenai hal ini dia sama sekali cuek dan semakin menghindar dariku. Aku biarkan aza dia sampe dia bener-bener mau ngomong tentang apa yang terjadi. Sebulan, dua bulan, tiga bulan sampe pada akhirnya kami naek kelas III masalah itu tak kunjung kelar. Di satu sisi aku ingin putus dengannya. Namun di sisi lain aku masih ingin dengannya. Tapi aku urungkan niatku untuk memutusnya mengingat janjiku waktu itu bahwa aku akan setia mendampinginya di kala susah maupun senang. Aku mencoba untuk mengalah pada posisi ini. Aku ikhlas jika suatu saat nanti dia bener-bener ninggalin aku. Ternyata firasatku benar. Pada saat aku lulus dari SMA dia bicara serius denganku. Dugaanku tepat sekali dia mau ninggalin aku. Aku udah pasrah dengan semua ini toh pada awalnya aku juga udah siap dengan resikonya bakalan seperti apa. Aku iyakan dia ketika dia berkata bahwa hubungan ini harus berakhir. Ketika itu aku gak bisa berbicara apa-apa lagi. Aku berusaha menerima keputusannya dengan ikhlas. Aku ucapakan rasa terima kasihku serta permohonan maafku kepadanya. Intinya kami berpisah secara baik-baik. Yah mungkin memang harus jalannya begitu. Aku dipertemukan di sekolah ini dan dipisahkan pula di sekolah ini.

0 komentar:

Copyright © 2009 Momochi is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez